Selasa, 21 Februari 2012

Quotes: Filosofi Kopi by Dewi Lestari


Tidak pernah ada kata terlambat bukan? Aku baru aja selesai baca kumpulan cerita dan prosa-nya Dee Lestari “Filosofi Kopi”. Jadul banget yah? Hehe. Buku ini memang udah ada sejak aku SMA, cuma dulu masih ragu-ragu buat melahap bacaan di rak ‘sastra’. Terus gara-gara seorang dosen yang tega memberiku nilai jelek, aku jadi tertantang buat baca karya-karya yang dipajang di rak ‘sastra’. Mulai dari tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer dan sekarang juga baca “Filosofi Kopi”. 

Cerita-cerita dan prosa dalam buku “Filosofi Kopi” dalem-dalem banget. Dee berhasil nih bikin aku jadi merinding disko pas bacanya, alur ceritanya mengalir dan membuat aku terhanyut terbawa perasaan sang tokoh, walaupun Dee tidak secara ‘resmi’ mengenalkan tokoh dan karakternya dalam cerita. Ada beberapa quote keren dari cerita dan prosa dalam “Filosofi Kopi”, sayang banget kalau gak aku tulis ;)

cover bukunya unik ;)


Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. (Filosofi Kopi-Dee Lestari)

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. (Mencari Herman-Dee Lestari)

Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali. (surat yang tak pernah sampai-Dee Lestari)

Sejarah seperti awan padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. (surat yang tak pernah sampai-Dee Lestari)

Cinta yang sudah dipilih sebaliknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami. (surat yang tak pernah sampai-Dee Lestari)

Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami. (surat yang tak pernah sampai-Dee Lestari)

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda. (Salju Gurun-Dee Lestari)

Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri. (Kunci Hati-Dee Lestari)

Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’. (Selagi Kau Lelap- Dee Lestari)

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. (Jembatan Zaman- Dee Lestari)

Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu. (Kuda Liar- Dee Lestari)

Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari. (Lilin Merah- Dee Lestari)

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring. (Spasi- Dee Lestari)

Banyak juga yaa..apa quote buku “Filosofi Kopi” favoritmu? ;)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentarmu di sini!